Kamis, 17 April 2014

Cream Soup Keju


Berawal dari melihat postingan Path seorang teman, saya terinspirasi untuk membuat makanan yang sama yaitu Cream Soup dan karena kebetulan sedang punya banyak stok keju di rumah, saya melebihkan pemakaian kejunya, ternyata lebih gurih dan enak tanpa harus menambahkan penyedap rasa, cocok sekali untuk makanan si kecil yang kebetulan sedang susah makan saat itu, plusss...bisa jadi makanan diet saya, hihihi.. *salahfokus*

Ini dia resepnya:

Bahan-bahan :
- 2 bonggol Jagung manis, diserut
- 2 buah wortel, potong kecil-kecil
-  fillet ayam secukupnya
-  4 buah bakso ayam/sapi
-  1 siung bawang bombay, iris
-  3 siung bawang putih, iris tipis
-  1 sdm mentega
- 1 buah tomat segar
-  2 butir telur ayam, kocok dengan garpu
-   keju kraft quick melt parut
-  3 sdm maizena, larutkan dalam air
-  3 sdm susu cair jika suka



Cara membuatnya :
- Rebus ayam sampai setengah matang, buang airnya
- Potong ayam bentuk dadu atau disuwir-suwir
- Tumis bawang bombay dan bawang putih menggunakan mentega sampai layu dan harum
- Rebus ayam yg sudah dipotong/disuwir tadi dengan air yg baru
- Masukan tumisan bawang tadi ke dalam panci rebusan ayam
- Masukan jagung manis, wortel, dan sosis lalu rebus dengan api besar sampai matang
- Kecilkan api, aduk-aduk terus sambil tuang telur yang sudah dikocok tadi
- Masukan garam, gula, lada sesuai selera
- Masukan parutan keju
- Terakhir, masukan maizena yang  sudah dilarutkan dengan air sambil terus mengaduk. Saat dirasa sudah matang, matikan kompor, biarkan sebentar baru dituang ke dalam wadah.



Catatan: Jika cream soup ini diperuntukan untuk anak, pastikan jagung manis dan wotelnya sudah lembut sebelum disajikan. Untuk yang alergi susu, sebaiknya susu tidak usah dipakai, tidak terlalu mengubah rasa.

Nah, gampang, kan? Selamat mencoba!

Minggu, 13 April 2014

WEEK 1 - my diet diary


catat..catat..catat..
Minggu pertama (dimulai sejak hari Minggu yang lalu tgl 6 April) memulai program ini fokus saya adalah mengurangi ngemil dan mengganti camilan saya dengan camilan yang lebih sehat serta berkalori rendah. Saya juga menggunakan diary untuk mencatat apa saja yang saya makan dan olahraga apa yang saya lakukan. Memang nggak setiap hari sih tapi lumayan membuat semuanya jadi on track.

Seperti yang saya bilang di sini, target saya hanyalah turun 1 kg per minggu. Silahkan baca sampai selesai untuk tahu apakah saya mencapai target tersebut atau tidak ;p

DAY 1 -DAY 2
Beraddd.., berusaha makan secukupnya dan memangkas karbohidrat lumayan banyak. Belum lagi rasa malas yang melanda saat harus mulai olahraga. Hari pertama batal ke pusat kebugaran, jadi cuma pake air climber selama 30 menit dan melakukan plank serta squash. Hari ke dua ikut pilates di sanggar senam dekat rumah.

DAY 3 
Gagal!, makan nasi padang pake' rendang dan kuah bersantan plus terong balado favorit, gak mikir lagi, bodo' amat, gak tahan huhuhuuu.. malemnya makan bakso karena alasan banyak kerjaan dan perlu energi tambahan. Hari itu gak olahraga pula, duh..

DAY 4
Berusaha kembali ke track dan menebus kegagalan hari sebelumnya. Berhasil, yay!

DAY 5-7
Berjuang untuk gak kebanyakan makan karbo, olahraga meski pun cuma 30 menit, dan mengganti cemilan dengan snack bar yang rendah kalori.

berusaha makan dengan secukupnya...
DAY 8
yang jatuh pada hari ini. TODAY is PERFECT. Saya sarapan tempe dan tahu, makan siang dua sendok nasi dengan banyak lauk (tempe, daging, sop, dan sambal), minum kopi hitam dengan sedikit gula, dan makan malam (yang saya majukan jadi jam 5 sore) dua telur dadar + tempe dan sambal.Cemilan saya sepanjang hari ini adalah dua buah pisang mas dan satu snack bar. Saya juga mengikuti kelas ObickMix di sanggar senam langganan dan mengantar anak-anak berenang.

Saya puas dengan pencapaian hari ini, tapi bagaimana dengan pencapaian minggu ini? apakah sesuai target? yup, dalam kondisi sudah makan minum dll hari ini, saya menimbang badan dan hasilnya TADAAAA...69,5 kg! yes, turun 1,5 kilo, target bukan hanya tercapai, tapi ada bonus setengah kilo-nya juga. Alhamdulillah...

Mudah-mudahan minggu depan progress-nya juga bagus...

My Diet Diary - Prolog

Sejak minggu lalu, saya membulatkan tekad untuk kembali ke jalan yang benar *halah*, mengatur makan dan kembali berolahraga. Berat badan saya yang sudah sempat turun kembali naik meski pun jauh dari berat badan saya sebelumnya. Beteeeenya minta ampun, tapi selalu malas untuk olahraga, tetap ngemil sepanjang waktu termasuk tengah malam, makan banyak nasi, dst, dst..

harus mulai kembali ke 'track' lagi nih..
Seperti biasa dan sudah umum, orang yang ingin menurunkan berat badan selalu punya 'wake up call', begitu juga saya kali ini. Saat sedang mengadakan seminar bersama the Urban Mama dan disponsori oleh salah satu pusat kebugaran, saya 'dipaksa' mengukur berat badan (beserta serta metabolic age, fat, dll). Saya gak mau dong, secara udah berasa bahwa berat badan terus bertambah beberapa bulan terakhir, but,  i am in denial, gak mau nimbang, pura-pura asik2 aja.. ehhh, saat ditimbang dan melihat hasilnya rasanya pengen ngurung diri di kamar sambil nyakar-nyakar tembok! life isn't fair! *drama-queen-mode-on*


Ini dia yang menyebabkan dada saya sesak:
Weight 71.2 kg --- sebelumnya 65 lebih dikit..
Metabolic Age 52! --- pantesan akhir-akhir ini saya berasa seperti nenek-nenek, cepet capek, males beraktivitas, dan yang cukup mengganggu, mood sering jelek.. oh, noooo...

Pulang dari acara tersebut, saya nggak langsung action. Masih in denial. Masih 'bangga' dengan sisa-sisa kesuksesan masa lalu yang berhasil nurunin sekitar 16 kg setelah melahirkan anak ke tiga. Jadi kenaikan berat badan yang 'cuma' 6 kilo harusnya nggak banyak berpengaruh buat saya..

ahhh..tapi nggak bisa, mood saya makin jelek setiap harinya. Acara milih baju saat mau berangkat ngantor, meeting, dll, jadi lebih lama dan penuh drama, jadi berasa sempit semua. Saya berasa kayak lepet!

Dan akhirnya, setelah mempersiapkan mental dan beberapa hal lain yang diperlukan, minggu lalu, saya resmi memulai (LAGI) perjalanan untuk membuang kelebihan berat badan ini, goalnya tidak ekstrim, hanya 1 kg per minggu dan saya ingin by the end of July, saya sudah bertubuh ideal...*fingers crossed*

Berikutnya saya akan posting progress-nya per minggu saja biar gak nyampah di-blog dan timeline google+ teman-teman ;p

Senin, 07 April 2014

HELLO MONDAY: Moments..

bing.com


Suka banget deh sama gambar di atas ini. Bikin gw teringat masa keci yang penuh kenangan. Memotivasi gw untuk menjalani hidup dengan lebih baik dan untuk selalu berusaha menciptakan momen indah bersama orang-orang tercinta.

Entah kenapa, akhir-akhir ini lagi sering teringat sama almarhum kakak laki2 gw dan kakak laki-laki tertua yang udah jarang banget ketemu..

Gw inget banget masa kecil yang penuh lika liku dengan mereka, dari senang, seru, sampe sedih. Untung banget masih banyak momen indah yang bisa diingat dan bikin kangen, ada juga momen sedih yang menimbulkan rasa sesal, aber, so ist das leben, that's life..

Tapi yang terpenting sekarang gw jadi lebih ingat untuk menciptakan momen-momen baru yang indah bersama orang-orang yang gw cintai sambil menikmati dan mengenang momen lama yang penuh kesan..

missed you so much bro...

Minggu, 23 Maret 2014

Melindungi Anak dari Kejahatan Seksual...


Saat masih kecil, beberapa kali saya mengalami hal yang membuat saya tidak nyaman, yang ternyata saat saya dewasa saya sadari itu sebagai pelecehan. Pengalaman saya mungkin tidak terlalu ‘gelap’ dibanding beberapa orang  yang saya kenal, namun hal itu sudah cukup membuat saya super waspada dengan isu sexual abuse terutama terhadap anak-anak.

Hanya karena badan saya yang bongsor, waktu kecil, saya beberapa kali menerima pandangan tidak sedap dari orang dewasa laki-laki baik di sekitar rumah mau pun di lokasi umum seperti mall dan taman rekreasi.  Pernah juga, saat saya sedang mandi, kebetulan ada orang yang sedang memperbaiki tembok dekat kamar mandi yang diam-diam mengintip saya. Saya yang merasa kaget langsung berteriak histeris sehingga kedua orang tua saya keluar dan segera melabrak orang tersebut.

Pengalaman di atas, belum lagi cerita teman ditambah berita-berita di televisi membuat saya menjadi over-protective terhadap anak-anak serta keponakan-keponakan saya. Mungkin ada yang menganggap saya parno alias paranoid,  tapi mencegah lebih baik daripada mengobati, kan?

Inilah tiga hal utama yang saya lakukan demi melindungi  anak-anak dari pelecehan, dan ini berlaku untuk anak laki-laki dan perempuan.

1.    Ajarkan. Berikan pendidikan mengenai seks pada anak saat mereka sudah mulai bisa diajak bicara. Sebagai contoh, saya kerap mengingatkan anak-anak bahwa hanya saya, ayah mereka dan si mbak yang boleh menyentuh daerah vital mereka, itu pun hanya saat mandi dan saat mereka memang masih perlu dimandikan. Jika orang lain melakukannya, meski pun itu adalah kerabat dekat, saya minta anak-anak untuk memberitahukannya pada saya. Saya juga mengatakan bahwa sentuhan apa pun yang membuat mereka merasa tidak nyaman, harus dihindari dan jangan takut atau malu untuk memberitahu pada saya, ayahnya, mbak, atau pun guru jika terjadi di sekolah.

Tidak hanya soal sentuhan, saat ada perkataan yang membuat mereka tidak nyaman, misalnya kata-kata kotor , saya meminta mereka untuk memberitahukannya pada saya. Saat saya masih di sekolah dasar, beberapakali saat pulang dari sekolah yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah, segerombolan remaja menggoda saya dengan kata-kata kotor. Saat itu saya tidak tahu arti kata tersebut, namun dari konteks kalimatnya,  saya tahu artinya pasti tidak bagus.  Persaaan saya  pun tidak enak. Saya yang saat itu tidak berani mengadu pada orang tua memilih jalan lain setiap pulang sekolah.  Saya memang bisa survive, tapi saya tidak ingin anak-anak saya mengalami hal tersebut dan tidak mengadukannya pada saya.

2.    Dengarkan. Dengarkan perkataan anak-anak kita. Saya punya contoh yang sampai sekarang rasanya masih sulit saya mengerti. Saat masih di Sekolah Dasar, seorang teman bercerita pada ibunya bahwa dadanya –maaf- diremas oleh seorang oknum  guru hingga terasa sakit, si ibu tak terlalu menggubris dan bilang itu hanya perasaan si teman saja. Duhhh.., saya tidak tahu mau berkomentar apa.  Kerusakan yang terjadi tidak hanya saat si anak masih kecil, bahkan sampai sekarang, saat sudah memiliki anak, teman saya tidak bisa benar-benar memaafkan ‘kecuekan’ ibunya waktu itu.

3.    Kuatkan. Saya mengikutkan anak-anak olahraga beladiri serta kegiatan fisik lainnya, seperti berenang dan sepak bola. Saya berharap, dengan mental yang tegar serta fisik yang kuat, insha Allah mereka bisa membela diri jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. 
olahraga..olahraga..olahraga...
Saya juga ingat sekali pernah menonton salah satu episode Oprah Winfrey di mana salah satu nara sumber mengajari anaknya untuk melawan sekuat tenaga pada saat awal  terjadinya suatu penculikan atau penyergapan.  Anak perempuan si nara sumber yang saat itu sedang naik sepeda dan hendak diculik oleh seorang pemerkosa pun langsung teringat nasehat bapaknya sehingga saat si penculik berusaha menariknya ke dalam mobil, ia meronta, menggigit, berteriak, mencakar, tanpa kenal lelah sehingga si calon pemerkosa yang berbadan besar mengurungkan niatnya (dan akhirnya tertangkap). Menurut sang bapak, jika si anak melawan saat sudah berhasil dibawa oleh penjahat, kemungkinannya sangat kecil untuk dapat melarikan diri.

Tentunya masih banyak cara lain untuk melindungi anak-anak kita, mari berusaha bersama-sama dan selalu ingatkan anak-anak untuk waspada ya..

Kamis, 27 Februari 2014

When Will We Stop Judging Each Other?

WM vs SAHM. sumber gbr: bing.com

Sekitar dua minggu yang lalu saya reunian bareng beberapa teman lama, memang bukan teman dekat sekali, tapi kami masih keep in touch lewat sosial media selama ini, jadi saat akhirnya ketemu lagi, seru banget, maklum sudah ibu-ibu semua, yang dibicarakan tidak jauh dari body issue, si A makin langsing aja, ya?, si C kok sekarang beda, ya?, dst, dst,  dan topik yang selalu menjadi favorit kami para ibu, yaitu keluarga, terutama anak-anak.

Saat obrolan tentang anak-anak tengah berlangsung, seorang teman curhat tentang sulitnya mendapat ART yang cocok sementara ia harus bekerja kantoran dan hal itu tentu saja sangat mempengaruhi konsentrasinya selama  di kantor. Sesama ibu bekerja lainnya saling memberi  tips mengatasi hal tersebut, sedangkan bagi teman yang kebetulan bekerja dari rumah turut bersimpati dengan masalah tersebut. Namun ditengah-tengah perbincangan itu, saya tersentak saat seorang teman, sebut saja M berujar, “duhh.., gw sih paling nggak bisa ngebiarin anak-anak gw diurus sama ART. Mau jadi apa coba anak-anak yang nggak diurus langsung sama ibunya?”

Zinggggg…..

Tiba-tiba suasana jadi hening, semua terdiam, tidak juga ingin menyalahkan teman kami yang tiba-tiba kembali keceplosan tentang pemikirannya mengenai bagaimana ibu ideal bagi dirinya dan keluarganya, tapi kami seperti kehilangan kata untuk mengomentari ucapannya tersebut.

Saya tidak ingin menceritakan tentang kelanjutan situasi di atas karena sudah bisa dibayangkan betapa akward-nya perbincangan berlangsung. Ada yang jelas-jelas menunjukan ketersinggungannya, ada yang berusaha netral, dan akhirnya kami putuskan untuk mengganti topik pembicaraan saja.  Yang ingin saya ceritakan adalah kenapa saya menggunakan kata ‘kembali’ dalam kalimat “…teman kami yang tiba-tiba kembali keceplosan tentang pemikirannya mengenai bagaimana ibu ideal bagi dirinya..” Ya, saat itu memang bukan pertama kalinya ia mengutarakan pendapatnya mengenai ibu ideal versi dirinya yang bikin gerah banyak teman dan kenalan.  Suatu kali di status akun sosialnya ia berkata, “lagi nganter kaka ke sekolah nih,” dan mem-posting foto tentunya. Lain kali ia memasang foto profil di blackberry messenger-nya memperlihatkan dirinya yang sedang di salon dan menulis “nikmatnya nyalon sambil nungguin si kaka sekolah.” Okay, saya suka status-statusnya, I envy her, in a positive way, of course,  karena saya juga ingin seperti dirinya, punya begitu banyak waktu untuk dihabiskan bersama anak-anaknya.  Hingga suatu hari, saya berhenti menyukai status-statusnya, bahkan mulai merasa terintimidasi melihat postingan foto dan status-nya yang menghujani timeline saya.  Hari itu ia men-tag dirinya yang sedang berada di sebuah RS, sedang menjenguk anak temannya yang sakit. “Alhamdulillah gw bisa selalu ngejaga anak2 gw. Kasian aja sama anak2 yg sering ditinggal sama ibunya kayak gini,”  tulisnya sebagai status. Darah saya rasanya mendidih.  Jadi, maksud dia, anak temannya yang sakit itu adalah akibat sering ditinggal oleh si teman yang kebetulan adalah wanita kantoran?. Jadi dia pikir ibu bekerja alias working mom (WM) tidak menjaga anak-anaknya dengan baik?. Rasanya saya ingin segera berkomentar di statusnya, “trus kalo’ si kaka kemarin-kemarin masuk rumah sakit, itu karena apa, dong?, kan situ nggak pernah ninggalin anak2 untuk kerja?.” Duhh.., untung saja saya masih berpikir logis dan bisa menahan diri untuk tidak memencet tuts telepon genggam saya, kalau tidak saya pasti sudah menyesalinya karena saya tahu itu hanya emosi sesaat.

"...ada yang perlu di garisbawahi, saya tidak pernah menyesal saat saya sedang menjadi SAHM atau pun saat saya sedang menjadi WM. Saya sangat menikmati kedua kondisi itu dengan segala kelebihan dan kekurangannya..."


Okay, cukup cerita tentang si M ini. Sebagai ibu yang bekerja kantoran, meski pun tidak lagi full-time alias hanya seminggu 3x saja, saya beberapa kali  merasa terintimidasi dengan penilaian ibu lainnya mengenai saya. Namun, saya juga ingat, saat saya sedang tidak bekerja dan menjadi Stay At Home Mom (SAHM),  saya juga kerap kali merasa sebal dengan anggapan beberapa kenalan yang kebetulan adalah ibu bekerja, yang menganggap bahwa SAHM itu biasanya kurang apdet, kurang pede, tidak bisa banyak memutuskan soal keuangan karena tidak punya penghasilan sendiri, dll, dst. Bahkan saat sedang kumpul-kumpul, seringkali saya merasa ‘tertinggal’ mendengarkan obrolan mereka yang sepertinya jauh dari dunia saya sehari-hari. Tapi ada yang perlu di garisbawahi, saya tidak pernah menyesal saat saya sedang menjadi SAHM atau pun saat saya sedang menjadi WM. Saya sangat menikmati kedua kondisi itu dengan segala kelebihan dan kekurangannya, apalagi saat ini, saat saya bekerja kantoran namun juga tetap bisa punya waktu bersama anak-anak, rasanya saya sudah memiliki segalanya. Poin penting untuk saya adalah, saat suami dan anak-anak merestui dan mendukung apa yang saya pilih, saya akan selalu menjadi ibu dan istri yang paling bahagia.

Saat pikiran saya sedang dipenuhi oleh isu SAHM dan WM ini, kebetulan sekali saya menemukan artikel ini  di internet dan saya sangat setuju dengan pendapat si penulis yang kurang lebih mengatakan, apa pun yang kita pilih, mengejar karir atau pun memilih membesarkan anak di rumah, semua terserah kita dan semua pilihan itu setara, tidak ada yang lebih tinggi atau pun lebih rendah. Sooo true..

Thread tentang ibu bekerja kantoran mau pun ibu bekerja dari rumah yang ada di theurbanmama.com juga selalu menjadi sumber inspirasi bagi saya. Membaca dan berbagi tips mengenai jadwal harian working mom, curhat mengenai dilema working mama, bahkan berbagi mengenai bagaimana cara mendapatkan penghasilan tambahan bagi SAHM, pun ada di situ. Cukup meringankan dan menceriakan hari-hari saya sebagai ibu rumah tangga sekaligus ibu bekerja. Mungkin dengan banyak membaca dan berbagi, sesama ibu, baik SAHM dan WM bisa lebih bisa saling mengerti dan mendukung :)

gbr dari sini

Semua ibu yang melimpahkan kasih sayangnya untuk anak-anak dan keluarganya, entah SAHM atau pun WM selalu menjadi super mom di mata saya, yang selalu memberi saya inspirasi untuk menjadi ibu sebaik mereka, sebaik kalian, ... so, please, stop judging each other, we are all equal...

Jumat, 14 Februari 2014

Tips Nge-blog untuk Mama Blogger

gbr dari sini
Sebagai seorang mama tentu saja kita sangat sibuk mengurus keluarga, terutama anak-anak, belum lagi harus bekerja dari rumah mau pun bekerja di kantor, padahal nge-blog buat para mama yang hobi menulis kadang bikin candu dan harus tetap dijalani.


Berikut beberapa tips yang mungkin bisa dilakukan agar tetap bisa eksis nge-blog tanpa mengganggu urusan rumah tangga dan pekerjaan.

  • Jadwalkan waktu khusus. Biasanya saya akan menjadwalkan pagi hari -setelah anak-anak berangkat sekolah dan sebelum saya berangkat ke kantor- untuk nge-blog. Jika tulisan saya belum selesai, saya akan menyimpannya di draft dan akan saya teruskan keesokan paginya. Kadang, jika sangat ingin dan memang tidak mengganggu aktivitas lainnya, saya akan meneruskan nge-blog pada malam hari, sepulang kerja dan saat anak-anak sudah tidur.
  • Siapkan tempat yang nyaman. Sama halnya seperti bekerja, untuk nge-blog yang efektif bagi para mama adalah dengan menyiapkan ruang khusus yang aman dari gangguan. Tempat khusus tersebut bisa saja ruang kerja, ruang tamu, dll. 
ini sudut kesukaan saya saat nge-blog
  • Buat daftar topik. Artinya, siapkan topik-topik menarik apa saja yang hendak kita tulis. Hal ini akan sangat membantu kita dalam menulis blog secara produktif namun tidak menguras terlalu banyak waktu untuk memikirkan topik yang bagus saat akan mulai menulis. Biasanya saya akan menuliskan ide-ide yang tercetus di notes di dalam smartphone saya.
  • Jadikan keseharian sebagai topik dalam blog kita. Tentunya apa yang kita alami sendiri akan lebih mudah untuk kita tuangkan dalam tulisan, kan?. Entah soal anak, soal pendidikan, tips di kantor, resep masakan, dan lain sebagainya.
  • Manfaatkan waktu macet. Saya memanfaatkan waktu terjebak macet dengan membuat draft tulisan untuk blog saya. Jadi saat duduk di depan komputer untuk menulis, saya bisa dengan cepat menyelesaikan artikel-artikel tersebut.

Quiet Book Tutorial

Saya sukaaa banget sama kain flanel, rasanya bisa dibikin jadi apa aja yang lucu-lucu. Kebetulan belum lama ini baru selesai membuat quiet book atau dikenal juga sebagai activity book untuk kado anak teman dekat saya. Berikut tutorialnya...


Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat quiet book adalah:
  1. Kain flanel dan kain perca motif apa saja
  2. Benang wol jika diperlukan
  3. Jarum
  4. Gunting
  5. Pita aneka warna
  6. Lem
  7. Benang sulam

Langkah pertama: Buat Pola. Sebagai contoh, saat saya ingin membuat halaman quiet book yang bergambar tas ransel, saya membuat pola ransel.


Langkah kedua: Gunting pola, badan ransel dan kantong ransel.


Langkah ketiga: Potong kain flanel sesuai pola dan tumpukan seperti di gambar.


Langkah keempat: Jahit kantong ransel di atas badan ransel menggunakan benang wol tipis atau benang sulam.


Langkah kelima: Setelah kantong selesai, jahit badan ransel ke kain bermotif.


Langkah keenam: Buat gantungan tas dan jahit di atas badan tas, menempel di kain bermotif.



Setelah selesai menjahit badan ransel ke kain bermotif, tempelkan kain bermotif tersebut ke halaman quiet book yang juga terbuat dari kain flanel. Langkah-langkah yang sama bisa dilakukan untuk gambar-gambar lainnya seperti mobil, sepatu, dll.


Selamat mencoba!

Senin, 03 Februari 2014

Healthy Family Talk Show...

Hari Sabtu tanggal 25 Januari lalu theurbanmama.com mengadakan talk show bertema healthy family di fx Sudirman. Ada Ligwina Hananto, CEO QM Financial yang berbicara tentang "Sudah siapkah dana untuk anakku?," ada Fitness First yang berbagi mengenai tips olahraga sehat bagi para mama, Casa Elana yang menghadirkan fashion show baju ibu menyusui, dan ELC yang menceriakan hari para urban kids dengan lomba face painting berhadiah seruuu.. Minilovebites juga hadir dengan cupcakesnya yang enak lhoo...

Ini dia foto-fotonya..

Ligwina dari QM Financial dan Yardian dari TUM sebagai moderator
cupcakes ulang tahun dari Minilovebites
peserta lomba face painting dari ELC
fashion show baju menyusui dari Casa Elana